SEJARAH ANRE GURU SEMMA DALAM RUMPA’NA BONE
Perlawanan Rakyat Bone terhadap Belanda pada tahun 1905
dikenal dengan nama RUMPA’NA BONE. Istilah RUMPA’NA BONE berasal dari
pernyataan Raja Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri sendiri ketika menyaksikan
secara langsung Petta Ponggawae (putranya sendiri) gugur diterjang peluru
tentara Belanda. Hal ini diungkapkan dengan kalimat Bugis yang kental “
RUMPA’NI BONE” (Bobollah Bone). Maka dengan gugurnya Petta Ponggawae sebagai
Panglima Kerajaan waktu itu, maka Lapawawoi Karaeng Sigeri beranggapan bahwa
benteng pertahanan Kerajaan Bone telah bobol dan dikatakanlah “RUMPA’NI BONE.
Lapawawoi
Karaeng Sigeri bersama putranya Abdul Hamid Baso Pagilingi yang populer dengan
nama Petta Ponggawae menunjukkan kepahlawanannya dalam perang Bone melawan
Belanda tahun 1905. Pendaratan tentara Belanda secara besar-besaran beserta
peralatan perang yang sangat lengkap di pantai Timur Kerajaan Bone (ujung
Pallette-BajoE-Ujung Pattiro), disambut dengan pernyataan perang oleh Raja bone
tersebut. Tindakan penuh keberanian ini dilakukan setelah mendapat dukungan
penuh dari anggota Hadat Tujuh serta Seluruh pimpinan Laskar Kerajaan Bone.
Salah satu putra terbaik Tana Bone dalam peristiwa heroik
itu adalah Arung Ponre, La Semma Daeng
Marola atau lebih dikenal dengan nama Anre
Guru Semma. Dia berasal dari Watapponre, yaitu sebuah perkampungan tua yang
dahulu menjadi pusat pemerintahan “kerajaan” Ponre. Pada jaman dahulu ketika
Kerajaan Bone belum terbentuk, Ponre adalah sebuah kerajaan kecil yang dipimpin
oleh seorang Matowa atau Arung seperti halnya kerajaan-kerajaan kecil lain yang
kemudian sama-sama melebur dalam kerajaan Bone pada masa pemerintahan Raja Bone
ke-3 yaitu Lasaliyu Karampeluwa (1424–1496). Letaknya berada di puncak Bulu
Ponre, sebuah gunung yang berada tepat ditengah-tengah antara Palakka, Ulaweng
Bengo, Lappa Riaja, Libureng, Mare, Cina dan Barebbo, saat ini.
Selama kurang lebih lima bulan (Juli-November) Daeng Marola senantiasa mendampingi
Lapawawoi Karaeng Sigeri bersama Petta Ponggawae melakukan perlawanan dengan
taktik gerilya secara berpindah-pindah mulai dari Palakka, Pasempe, Gottang,
Lamuru, dan Citta di daerah Soppeng hingga ke pusat pertahanan terakhir Bulu
Awo (perbatasan Siwa dengan Tanah Toraja), tempat gugurnya Petta PonggawaE.
Dalam hikayat Rumpa’na Bone yang terkenal itu, disebutkan
bahwa ketika para pimpinan laskar kerajaan Bone seperti Daeng Matteppo’ Arung
Bengo dari Bone Barat, Daeng Massere Dulung Ajangale dari Bone Utara, dan Arung
Sigeri Keluarga Arungpone serta sejumlah Pakkanna Passiuno lainnya gugur dalam
pertempuran melawan armada belanda yang sangat lengkap persenjataannya, laskar
Bone dibawah komando Panglima Perang Petta Ponggawae terdesak mundur dan
bertahan di Cellu. Pertempuran berlangsung sangat sengit. Dentuman
meriam-meriam Belanda disambut dengan tombak, parang, badik dan persenjataan
seadanya oleh Laskar Bone. Keberanian laskar bone menyabung nyawa membuat
serdadu belanda merinding. Tidak sedikit serdadu belanda yang tewas. Dalam
pertempuran ini, Daeng Marola
mengukir sejarah dengan keberaniannya yang pantang mundur sejengkalpun. Konon,
dia hanya memilik tiga butir peluru, namun setiap kali ditembakkan, moncong
senjatanya kembali berisi seolah tak pernah kehabisan peluru untuk menewaskan
si Mata Pute, Belanda.
Pertempuran terus berlangsung. Panglima Kerajaan Bone Petta
Ponggawae terus mengobarkan semangat perlawanan sambil terus meramu taktik agar
Tanah Bone dapat tetap dipertahankan. Satu demi satu lascar kerajaan bone gugur
sebagai pahlawan Tana Ugi. Daeng Marola
pun akhirnya terluka lalu di tandu menuju Seroja (istana) tempat Mangkau (Raja)
berada. Melihat kenyataan itu, Petta ponggawae segera mengirim pesan ke Istana
agar kiranya Mangkau segera meninggalkan istana dan berlindung ke Palakka. Sang
Raja menerima pesan tersebut dan mempertimbangkan segala sesuatunya. Terbayang
nasib negeri Bone tercinta jika harus ditinggalkannya. Ia menatap permaisuri
menunggu pertimbangan. Daeng Marola
pun telah tiba di Istana. Setelah beberapa saat, Sang Mangkau lalu meminta
pertimbangan Daeng Marola tentang
isi pesan dari Petta Ponggawae. Dengan hormat Daeng Marola menyampaikan bahwa laskar Bone sulit untuk membendung
serangan Belanda. Kekuatan persenjataan sungguh sangat tidak seimbang, perlu
perubahan taktik dan starategi untuk bisa terus melawan. Daeng Marola memahami dan merasakan kegalauan sang Raja. Diyakinkannyalah
Sang Raja bahwa mundur bukan berarti kalah tetapi mundur selangkah untuk maju
seribu kali.
Setelah menyimak pandangan yang diberikan oleh Daeng Marola, sedikit tenanglah kembali
hati sang Raja. Persiapan segera dilakukan. Para pengawal telah siaga untuk
melindungi perjalanan Sang Raja beserta keluarga menuju Palakka. Pada tanggal
30 Juli 1905 tentara Belanda berhasil merebut Saoraja (Istana Raja) di Watampone
dan menjadikannya sebagai basis pertahanannya.
Sepeninggal Panglima Perang Petta Ponggawae, laskar-laskar
kerajaan Bone terpencar-pencar. Meski perlawanan masih terus berjalan
terutama Laskar-Laskar yang berada di wilayah selatan Kerajaan Bone di bawah
komando Latemmu Page Arung Labuaja. Namun kian hari stamina laskar kerajaan
Bone semakin menurun sementara serdadu Belanda terus menyisir pusat-pusat
pertahanannya.
Perlawanan Rakyat Bone kini dilakukan dengan cara bergerilya
dan berpindah-pindah. Dari Palakka, rombongan Mangkau kemudian pindah ke
Passempe. Tanggal 2 Agustus 1905 M. tentara Belanda menyerbu ke Pasempe, akan
tetapi Arumpone dengan laskar dan keluarganya sudah meninggalkan Pasempe dan
mengungsi ke Lamuru dan selanjutnya ke Citta. Dalam bulan September 1905 M.
Arumpone dengan rombongannya tiba di Pitumpanuwa Wajo. Tentara Belanda tetap
mengikuti jejaknya. Daeng Marola Arung
Ponre serta sejumlah laskar pemberani terus mendampingi Petta Ponggawae
menyertai Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri hingga di Bulu Awo perbatasan Siwa
dengan Tanah Toraja. Di Bulu Awo inilah pada tanggal 18 November 1905 M. Laskar
Pemberani Kerajaan Bone di bawah komando Panglima Petta PonggawaE kembali
bertemu dengan tentara Belanda dibawah komando Kolonel van Loenen dan terjadi
pertempuran habis-habisan. Pada saat itulah, Baso Pagilingi Petta PonggawaE
gugur terkena peluru Belanda. Pada saaat gugurnya Baso Pagilingi Petta
PonggawaE, La Pawawoi Karaeng Sigeri langsung menaikkan bendera putih sebagai
tanda menyerah. Rupanya La Pawawoi Karaeng Sigeri melihat bahwa putranya yang
bernama Baso Pagilingi itu adalah benteng pertahanan dalam perlawanannya
terhadap Belanda. Sehingga setelah melihat putranya gugur, spontan ia berucap ;
Rumpa’ni Bone, artinya benteng pertahanan Bone telah bobol. Lapawawoi Karaeng
Sigeri akhirnya ditangkap dan dibawa ke Parepare, seterusnya ke Makassar lalu
diasingkan ke Bandung dan terakhir dipindahkan ke Jakarta. Pada tanggal 11
November 1911 M. La Pawawoi Karaeng Sigeri meninggal dunia di Jakarta, maka
dinamakanlah MatinroE ri Jakarta. Dalam tahun 1976 M. dianugrahi gelar sebagai
Pahlawan Nasional, dan kerangka jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan
Kalibata.
Ketika La Pawawoi Karaeng Sigeri diasingkan ke Bandung,
pemerintahan di Bone hanya dilaksanakan oleh Hadat Tujuh Bone. Dengan demikian
selama 26 tahun tidak ada Mangkau’ di Bone. Adapun La Semma Daeng Marola, ketika Bone benar-benar telah di kuasai oleh
Belanda, La Semma Daeng Marola
mangurungkan niatnya untuk pulang ke kampung halamannya, Ponre. Daeng Marola Arung Ponre memilih tetap
berada di Bajoe dan menghembuskan nafas terakhirnya disana dan disebutlah ia
sebagai Anre Guru Semma Suliwatang
Matinroe Ribajoe.
Demikianlah sekilas sejarah Rumpa’na Bone, dimana seorang
Putra Ponre telah mengukirkan sejarah kepahlawanan yang akan terus dikenang
oleh anak cucunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar