Riwayat Raja Bone (7): La Tenri Rawe Bongkangnge’

Makam Raja - raja Bone di Bukaka,
Watampone. (foto : google).
LA Tenri Rawe BongkangE naik takhta sebagai Raja Bone VII
menggantikan ayahnya La Uliyo Bote’E, Raja Bone VI. La Tenri Rawe kawin dengan
We Tenri Pakiu Arung Timurung MaccimpoE anak dari La Maddussila dengan
isterinya We Tenri Lekke. Dari isterinya Arung Timurung melahirkan La
Maggalatung yang dipersiapkan sebagai ana’ pattola, namun meninggal dunia
semasa kecil. Anak kedua La Tenri Sompa dipersiapkan menjadi Arung Timurung,
tetapi juga meninggal karena dibunuh oleh seorang bernama Dangkali.
Ketika menjadi Mangkau’ di Bone, La Tenri Rawe sangat
dicintai rakyatnya karena memiliki Sifat - sifat terpuji : berbudi pekerti yang
baik, jujur, dermawan, adil dan sangat bijaksana. Dia tidak membedakan antara
keluarganya yang memiliki turunan bangsawan dengan keluarganya dari orang
biasa. Arumpone La Tenri Rawe-lah yang pertama kali membagi dan menata struktur
pemerintahan lebih baik (makkajennangeng) seperti: yang bertugas mengurus jowa
(pengawal), yang bertugas mengurus anak bangsawan dan yang mengurus wanua
(daerah).
Dimasa kekuasaannya, Gowa mengingkari Ulu Ada’ (perjanjian)
pendahulunya dan melakukan serangan militer sebanyak empat kali. Serangan militer
pertama dalam tahun 1562 merupakan buntut pertemuan kenegaraan antara Raja Bone
dan Gowa yang dimeriahkan dengan sabung ayam. Taruhan Raja Gowa sebesar 100
kati emas, sedang Raja Bone sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu
kampong). Ayam sabungan Gowa berwarna merah, ayam sabungan Gowa mati terbunuh
oleh ayam sabungan Bone”. Peristiwa sabung ayam kedua raja yang sedang menanjak
pengaruhnya di semenanjung barat dan timur ini bukanlah sabung ayam biasa,
melainkan sabung ayam yang mempertandingkan kesaktian dan kharisma Raja Bone
dengan Raja Gowa. (Kasim, 2002 dalam Makkulau, 2009).
Kematian ayam sabungan Raja Gowa merupakan fenomena
kekalahan kesaktian charisma Raja Gowa oleh Raja Bone sehingga Tragedi ini
dipandang sebagai Siri’. Sabung ayam itu sendiri menempatkan Bone dalam posisi
psikologis yang kuat terhadap kerajaan – kerajaan kecil disekitarnya yang
dengan sukarela menggabungkan diri sebagai palili (bawahan) Bone. Negeri
Ajangale’, Awo, Teko dan Attassalo menyatakan diri bergabung. Tellu Limpue
juga datang menggabungkan Babanna Gowa di Bone dan didudukkanlah sebagai palili
Bone. Hal
ini membuat KaraengE ri Gowa (Raja Gowa) bertambah marah sepulang ke Gowa
langsung mempersiapkan serangan militer ke Bone. (Makkulau, 2009).
Pengintegrasian Tellu Limpoe dengan Bone, dijadikan dalih
Gowa melancarkan serangan militer melalui jalan darat via Camba dengan jalan
kaki atau naik kuda. Serangan Gowa selanjutnya selalu naik perahu via Teluk
Bone. Perang tersebut diakhiri dengan gencatan senjata. Paska Perang itu, Datu
Soppeng Rilau La Makkarodda To Tenri Bali MabbeluwaE yang diturunkan dari
takhtanya datang ke Bone untuk minta perlindungan. Di Bone, ia kawin dengan
saudara Arumpone We Tenri Pakkuwa. Dari perkawinannya itu lahirlah We Dangke
atau We Basi LebaE ri Mario Riwawo. Saudara Arumpone We Lempe kawin dengan
sepupu dua kalinya La Saliwu Arung Palakka. Dari perkawinannya itu melahirkan
La Tenri Ruwa MatinroE ri Bantaeng yang kawin dengan sepupu satu kalinya
bernama We Dangke. La Tenri Ruwa adalah nenek Arung Palakka MatinroE ri
Bontoala. (Lontaraq Akkarungeng ri Bone dalam Makkulau, 2009).
Ambisi Gowa untuk menaklukkan Bone tak pupus. Tak lama
setelah itu Gowa kembali melancarkan serangan militer kedua dan terjadilah
perang di Cellu selama lima hari lima malam dan orang
Gowa mundur. Perang ini terjadi dalam tahun 1563. Dua tahun kemudian Gowa
menyerang lagi. Kali ini perang berlangsung tujuh hari tujuh malam, pasukan
Gowa mengambil tempat pertahanan di Walenna, namun dalam serangan militer ketiga
(1565) ini Raja Gowa tiba-tiba terserang penyakit yang membuatnya harus kembali
ke Gowa. Konon, ketika sampai di Gowa ia pun meninggal dunia.
Serangan Gowa yang bertubi – tubi itu
sudah cukup menjadi alasan bagi Bone untuk melakukan serangan balasan terhadap
Gowa. Namun sejauh itu Bone tetap bersikap defensif. Pengganti Raja Gowa Daeng
Bonto, I Tajibarani Daeng Manrumpa Karaeng Data Tunibatta (1565), lebih
berambisi lagi untuk menaklukkan Bone. Dengan kekuatan angkatan perang yang
lebih besar daripada serangan (ke-1, ke-2, dan ke – 3), I Tajibarani menyerang
Bone. Hanya kurang dua bulan kemudian, serangan militer kembali digencarkan.
Mendengar Gowa kembali, maka seluruh orang Ajangale’ dan orang Timurung datang
membantu Bone, Begitu pula orang Limampanua Rilau Ale’ yang berkedudukan di
Cinennung dan orang Awampone berkedudukan di Pappolo berdekatan dengan benteng
pertahanan KaraengE ri Gowa. Terjadilah perang yang sangat dahsyat. Orang Gowa
menyerbu ke arah selatan, membakar Kampung Bukaka dan Takke Ujung. (Kasim,
2002).
Serangan militer keempat Gowa dalam
tahun 1565 tersebut dilukiskan BF Matthes dalam, ”Boegineesche Chrestomathie”
sebagaimana dikutip dalam Sejarah Bone (Abdur Razak Dg Patunru, tt) sebagai
berikut, ”Begitu hebat serangan laskar Gowa kali ini, sehingga beberapa daerah
bawahan Kerajaan Bone dapat didudukinya antara lain Ajangale dan Awangpone.
Gowa membangun bentengnya di Pappolo. Serangan laskar Gowa kali ini luar biasa,
bertambah luas Daerah Bone dikuasai dalam waktu singkat, sampai – sampai dapat
menerobos masuk ke Bukaka dan Takke Aju’. Pada hari yang terakhir matahari agak
condong ke barat, saat laskar Gowa menghalau ternak dan harta rampasannya,
dapat dicegat lasykar Bone yang jumlahnya cukup besar. Banyak lasykar Gowa yang
gugur pada waktu itu. Akhirnya Raja Gowa XI, I Tajibarani Daeng Manrumpa
Karaeng Data, terpancung oleh laskar Bone, yang menyebabkan Raja Gowa tewas di
medan laga. Prajurit Bone yang berhasil memancung Raja Gowa ini bernama La
Tunru”. (Kasim, 2002 dalam Makkulau, 2009).
Dengan gugurnya I Tajibarani, Raja dan
panglima pasukan Kerajaan Gowa, maka lasykar Gowa menyerah tanpa syarat. Maka
diadakanlah perjanjian perdamaian di Caleppa (lokasi Caleppa 4 km di sebelah
utara Watampone) di akhir Tahun 1565 yang dikenal dengan nama ”Ulu adae ri
Caleppa”, dihadiri oleh delegasi Bone, KajaoLaliddong dan Raja Bone La
Tenrirawe Bongkange, serta delegasi Gowa, Mangkubumi Gowa (Raja Tallo) I
Mappataka Tana Daeng Padulung. Dalam perjanjian itu ditetapkan : (1) Bone
meminta kemenangan – kemenangan, yaitu kepadanya harus diserahkan daerah –
daerah sampai ke Sungai Walanae di sebelah barat dan sampai di daerah Uloe di
sebelah utara. (2) Sungai Tangka akan menjadi perbatasan daerah kekuasaan Bone
dan daerah kekuasaan Gowa disebelah selatan. (3) Supaya negeri Cenrana masuk
daerah kekuasaan Bone, karena Cenrana dahulu memang sudah ditaklukkan oleh Bone
yang bernama ‘La Tenrisukki Mappajunge’, yaitu sebagai kemenangan dalam
peperangan melawan Raja Luwu yang bernama Dewaraja.
Kemenangan militer Bone atas Gowa
memaksa Gowa untuk mengakui batas – batas wilayah Kerajaan Bone. Pengganti Raja
Gowa, I Tajibarani ialah putera mahkota, Manggorai Daeng Mammeta Karaeng
Bontolangkasa Tunijallo (1566 – 1591), menerapkan pendekatan diplomatik dan
sikap lunak terhadap Bone. Bone dan Gowa mengaktualisasikan kembali Perjanjian
Tamalate tahun 1540. Dual entente antara Gowa dengan Bone yang kedua ini (1566)
menetapkan : (1) Musuh salah satu diantara mereka adalah musuh bersama, (2)
Orang Gowa yang ke Bone atau orang Bone ke Gowa, adalah seperti mereka datang
ke negerinya sendiri. Raja Gowa, Karaeng Bontolangkasa mengubah politik luar
negerinya terhadap Bone dari pendekatan militer menjadi pendekatan diplomatik,
dari sikap bermusuhan menjadi sikap bersahabat, menciptakan kondisi hidup
berdampingan secara damai.
Pada saat itu terjadi pula Serangan
militer Luwu ke Bone, mungkin didasarkan pada prakiraan bahwa Bone masih dalam
keadaan lemah akibat perang yang berkepanjangan dengan Gowa. Kemarahan Bone
terhadap Luwu karena Datu Luwu Sanggariya karena Luwu naik lagi ke Cenrana.
Maka wanua Cenrana telah dua kali direbut dengan kekuatan senjata (riala bessi)
oleh Bone. Untuk memperkuat kedudukan Bone, Arumpone La Tenri Rawe menjalin
kerjasama dengan Arung Matowa Wajo To Uddamang dan Datu Soppeng PollipuE. Maka
diadakanlah pertemuan di Cenrana untuk jalinan kerjasama regional antara Bone,
Soppeng dan Wajo. Di Cenrana, ketiga raja bersepakat pertemuan lanjutan di
Timurung. Setelah sampai waktu yang ditentukan, maka berkumpullah orang Bone,
Soppeng dan Wajo di Bunne. Inilah catatan yang menjelaskan TellumpoccoE (Bone –
Soppeng – Wajo) yang terkandung dalam perjanjian La Tenri Rawe BongkangE
(Bone), To Uddamang (Wajo) dan La Mata Esso’ (Soppeng).
Dalam pertemuan itu Arung Matowa Wajo
bertanya kepada Arumpone ; ”Bagaimana mungkin kita hubungkan tanah kita
bertiga, sedang Wajo adalah kekuasaan Gowa dan Bone juga punya hubungan dengan
Gowa”. Arumpone menjawab, ”Yang menjalin hubungan disini adalah Bone, Soppeng
dan Wajo. Selanjutnya Bone menjalin hubungan dengan Gowa. Kalau Gowa masih mau
menguasai Wajo, maka kita bertiga melawannya”. Pernyataan Arumpone tersebut
diiyakan Arung Matowa Wajo. Berkata PollipuE ri Soppeng, ”Bagus Arumpone, tanah
kita bertiga bersaudara. Tetapi saya minta agar tanah Soppeng adalah pusaka
tanah Bone dan Wajo. Sebab bersaudara itu berarti sejajar”. Arumpone menjawab,
”Bagaimana Arung Matowa, sebab apa yang dikatakan PollipuE adalah benar”. Arung
Matowa Wajo menjawab, ”Saya kira tanah kita bertiga akan rusak apabila ada yang
namanya sipoana’ (ada yang
menganggap dirinya tua dan ada yang muda). Berkata lagi Arumpone, ”Saya setuju,
tidak apalah saya berikan tanah kepada Soppeng untuk penambah daki, agar tanah
kita bertiga tetap bersaudara”.
Berkata pula Arung Matowa Wajo, ”Bagus
Arumpone, saya juga berikan Soppeng penambah daki yaitu Baringeng, Lompulle dan
sekitarnya”. Datu Soppeng dan Tau TongengE berkata, ”Terima kasih atas maksud
baikmu itu, karena tanah kita bertiga telah bersaudara, tidak saling
menjerumuskan kepada hal yang tidak dikehendaki, kita bekerja sama dalam hal
yang kita sama kehendaki”. Berkata Arumpone dan Arung Matowa Wajo, ”Kita
bertiga telah sepakat, maka baiklah kita meneggelamkan batu, disaksikan oleh
Dewata SeuwaE’, siapa yang mengingkari perjanjiannya dialah yang ditindis oleh
batu itu”. Berkatalah Arung MatowaE ri Wajo kepada Kajao Laliddong, ”Janganlah
dulu menanam batu itu, Kajao ! Sebab saya masih ada yang akan kukatakan bahwa
persaudaraan TellumpoccoE tidak akan saling menjatuhkan, tidak saling berupaya
kepada hal-hal yang buruk, janganlah kita mengingkari perjanjian, siapa yang
tidak mau diingatkan, dialah yang kita serang bersama (diduai), dia yang kita
tundukkan”.
Dengan pendekatan diplomatik, La
Tenrirawe Bongkange’ berhasil menggabungkan kekuatan Bone, Soppeng dan Wajo di
Kampung Bunne Timurung, Bone Utara pada tahun 1572. Dalam bahasa Bugis disebut
“Mattellumpoccoe ri Timurung”. Substansi kesepakatan menunjukkan bahwa
ketiga kerajaan secara sadar membentuk pakta pertahanan militer untuk
menghadapi musuh bersama mereka sekaligus mengamankan daerah lumbung padi
(Bone, Soppeng dan Wajo). Dengan demikian Tellumpoccoe ri Timurung merupakan
kekuatan ketiga di kawasan Sulawesi Selatan disamping Gowa dan Luwu (Kasim,
2002). Di akhir hayatnya, La Tenri Rawe BongkangE digelari MatinroE ri Gucinna
karena pada saat meninggal, jenazahnya dibakar dan abunya dimasukkan ke dalam
guci. (***)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar