Raja
Bone XIV
La Tenriaji To Senrima
LA Tenriaji Tosenrima (1640 – 1643)
menggantikan saudaranya La Maddaremmeng Matinroe’ ri Bukaka menjadi Arung
Mangkau’ Bone. Dialah yang melanjutkan perlawanan Bone terhadap Gowa, namun
kenyataannya Bone kembali mengalami kekalahan. Karena pada perang ini Gowa
ternyata dibantu oleh Luwu dan Wajo. Pertahanan terakhir Arumpone La Tenriaji
Tosenrima adalah Pasempe’, sehingga dikatakan Beta Pasempe’ (1646).
Dalam Perang Pasempe, La Tenriaji
diserang dari tiga pihak laskar, Wajo dan Luwu menyerang dari utara dan laskar
Gowa menyerang dari selatan lewat jalur laut. Pasukan La Tenriaji bertahan di
Pasempe, namun gelombang serangan Gowa dan sekutunya sungguh dahsyat. Bone
akhirnya kalah dan La Tenriaji ditawan lalu diasingkan ke Siang (Pangkajene
sekarang ini). Kekalahan Bone ini yang akhirnya membuat wilayahnya dibagi tiga,
sebahagian diambil oleh Gowa, sebahagian diambil Luwu dan sebahagian diambil
oleh Wajo.
Paska Perang, semua bangsawan Bone
ditawan, termasuk La Pottobune’ bersama isteri dan anaknya. Selebihnya
diberikan kepada Luwu dan Wajo. Adapun yang menjadi milik Wajo tetap berada di
Bone, sebab Wajo masih ingat Ulu Ada’ (perjanjian) dengan Arung terdahulu bahwa
”Yang rebah akan ditopang, yang hanyut akan diraih” sebagaimana isi Lamumpatue’
ri Timurung yang pernah disepakati TellumpoccoE. Arung Matowa Wajo La
Makkaraka mengatakan, ”Bahagian Wajo yang pergi ke Gowa adalah milik Gowa,
bahagian Luwu yang pergi ke Wajo tetap milik Luwu. Sedang bahagian Wajo di Bone
tetap milik Bone, kecuali dia sendiri yang datang ke Wajo, barulah milik Wajo”.
Permintaan ini akhirnya disetujui oleh KaraengE dan Datu Luwu. (Kasim, 2002
dalam Makkulau, 2009).
Ketika La Tenriaji Tosenrima
ditangkap dan dibawa ke Gowa, diikutkanlah semua anak bangsawan Bone lainnya.
Setelah itu Bone dibakar oleh orang Gowa, menjadilah Bone sebagai wilayah
jajahan Gowa dan seluruh rakyatnya dijadikan ata’ (budak), sedang
bangsawannya dibagi kepada Hadat Gowa (Bate Salapang) untuk dijadikan hamba
pula. Yang tidak tertawan hanyalah anak kecil, orang tua lanjut umur, kecuali
atas permintaan orang tuanya. La Pottobune’ Arung Tanatengnga, isteri dan
anak-anaknya tinggal di rumah KaraengE selama ditawan, ketika itu La Tenri
Tatta baru berusia 11 tahun. Karena seorang yang cerdas sehingga banyak yang
menyukainya, semua anggota Bate Salapang pernah ditempatinya.
Karena La Tenriaji Tosenrima
diasingkan ke Siang, maka KaraengE kemudian mengangkat raja boneka di Bone.
Pengangkatan Arung Mangkaue di Bone selanjutnya diserahkan kepada KaraengE
karena orang Bone tidak berani lagi menunjuk seorang raja. KaraengE ri Gowa
kemudian menunjuk Karaeng Summana untuk melaksanakan pemerintahan di Bone,
namun karena selalu dironrong pemerintahannya maka kembalilah Karaeng Summana
ke Gowa. Kepada KaraengE, Karaeng Summana melaporkan ketidak mampuannya
menghadapi orang Bone. Sejak saat itu sempat terjadil kevakuman pemerintahan di
Bone, sementara itu La Tenriaji Tosenrima meninggal dunia di Siang sehingga
digelari Matinroe ri Siang. (Makkulau, 2009)
Menurut catatan lontaraq’, La
Tenriaji Tosenrima hanya mempunyai seorang anak yang bernama La Pabbele
Matinroe’ ri Batubatu. Inilah yang melahirkan Daeng Manessa Arung Kading.
Selama beberapa waktu tidak ada pengganti La Tenriaji Tosenrima MatinroE ri
Siang sebagai Arumpone. Orang Bone dan segenap anggota Hadatpun sudah tidak mau
menunjuk seorang Mangkaue’. Sementara KaraengE ri Gowa juga ragu untuk
mengangkat seorang Arung kalau bukan yang diinginkan oleh orang Bone. Oleh
karena itu, KaraengE ri Gowa hanya menunjuk seorang jennang (pelaksana) yang
memiliki wewenang sebagai pengganti Mangkau’ di Bone. (***)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar