Sejarah Bugis

Jumat, 19 Oktober 2012

Raja Bone XIV


Raja Bone XIV
La Tenriaji To Senrima
LA Tenriaji Tosenrima (1640 – 1643) menggantikan saudaranya La Maddaremmeng Matinroe’ ri Bukaka menjadi Arung Mangkau’ Bone. Dialah yang melanjutkan perlawanan Bone terhadap Gowa, namun kenyataannya Bone kembali mengalami kekalahan. Karena pada perang ini Gowa ternyata dibantu oleh Luwu dan Wajo. Pertahanan terakhir Arumpone La Tenriaji Tosenrima adalah Pasempe’, sehingga dikatakan Beta Pasempe’ (1646).
Dalam Perang Pasempe, La Tenriaji diserang dari tiga pihak laskar, Wajo dan Luwu menyerang dari utara dan laskar Gowa menyerang dari selatan lewat jalur laut. Pasukan La Tenriaji bertahan di Pasempe, namun gelombang serangan Gowa dan sekutunya sungguh dahsyat. Bone akhirnya kalah dan La Tenriaji ditawan lalu diasingkan ke Siang (Pangkajene sekarang ini). Kekalahan Bone ini yang akhirnya membuat wilayahnya dibagi tiga, sebahagian diambil oleh Gowa, sebahagian diambil Luwu dan sebahagian diambil oleh Wajo.
Paska Perang, semua bangsawan Bone ditawan, termasuk La Pottobune’ bersama isteri dan anaknya. Selebihnya diberikan kepada Luwu dan Wajo. Adapun yang menjadi milik Wajo tetap berada di Bone, sebab Wajo masih ingat Ulu Ada’ (perjanjian) dengan Arung terdahulu bahwa ”Yang rebah akan ditopang, yang hanyut akan diraih” sebagaimana isi Lamumpatue’ ri Timurung yang pernah disepakati TellumpoccoE. Arung Matowa Wajo La Makkaraka mengatakan, ”Bahagian Wajo yang pergi ke Gowa adalah milik Gowa, bahagian Luwu yang pergi ke Wajo tetap milik Luwu. Sedang bahagian Wajo di Bone tetap milik Bone, kecuali dia sendiri yang datang ke Wajo, barulah milik Wajo”. Permintaan ini akhirnya disetujui oleh KaraengE dan Datu Luwu. (Kasim, 2002 dalam Makkulau, 2009).
Ketika La Tenriaji Tosenrima ditangkap dan dibawa ke Gowa, diikutkanlah semua anak bangsawan Bone lainnya. Setelah itu Bone dibakar oleh orang Gowa, menjadilah Bone sebagai wilayah jajahan Gowa dan seluruh rakyatnya dijadikan ata’ (budak), sedang bangsawannya dibagi kepada Hadat Gowa (Bate Salapang) untuk dijadikan hamba pula. Yang tidak tertawan hanyalah anak kecil, orang tua lanjut umur, kecuali atas permintaan orang tuanya. La Pottobune’ Arung Tanatengnga, isteri dan anak-anaknya tinggal di rumah KaraengE selama ditawan, ketika itu La Tenri Tatta baru berusia 11 tahun. Karena seorang yang cerdas sehingga banyak yang menyukainya, semua anggota Bate Salapang pernah ditempatinya.
Karena La Tenriaji Tosenrima diasingkan ke Siang, maka KaraengE kemudian mengangkat raja boneka di Bone. Pengangkatan Arung Mangkaue di Bone selanjutnya diserahkan kepada KaraengE karena orang Bone tidak berani lagi menunjuk seorang raja. KaraengE ri Gowa kemudian menunjuk Karaeng Summana untuk melaksanakan pemerintahan di Bone, namun karena selalu dironrong pemerintahannya maka kembalilah Karaeng Summana ke Gowa. Kepada KaraengE, Karaeng Summana melaporkan ketidak mampuannya menghadapi orang Bone. Sejak saat itu sempat terjadil kevakuman pemerintahan di Bone, sementara itu La Tenriaji Tosenrima meninggal dunia di Siang sehingga digelari Matinroe ri Siang. (Makkulau, 2009)
Menurut catatan lontaraq’, La Tenriaji Tosenrima hanya mempunyai seorang anak yang bernama La Pabbele Matinroe’ ri Batubatu. Inilah yang melahirkan Daeng Manessa Arung Kading. Selama beberapa waktu tidak ada pengganti La Tenriaji Tosenrima MatinroE ri Siang sebagai Arumpone. Orang Bone dan segenap anggota Hadatpun sudah tidak mau menunjuk seorang Mangkaue’. Sementara KaraengE ri Gowa juga ragu untuk mengangkat seorang Arung kalau bukan yang diinginkan oleh orang Bone. Oleh karena itu, KaraengE ri Gowa hanya menunjuk seorang jennang (pelaksana) yang memiliki wewenang sebagai pengganti Mangkau’ di Bone. (***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar